Mengukur Jejak, Menggerakkan Perubahan: Pleno Tengah HMJMPI Katalisator Jadi Ruang Refleksi di Tengah Perjalanan!

Bandung, 12 September 2026 — Setengah perjalanan kepengurusan bukan sekadar tentang seberapa banyak program yang telah terlaksana, tetapi juga tentang sejauh mana setiap langkah telah memberikan arah bagi perjalanan organisasi. Berangkat dari semangat tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (HMJMPI) Kabinet Katalisator periode 2026–2027 melaksanakan Sidang Pleno Tengah sebagai ruang untuk melihat kembali perjalanan kepengurusan sekaligus menata langkah untuk melanjutkan periode yang sedang berjalan.

Pleno Tengah ini Mengusung tema “Dekolonisasi Organisasi HMJMPI: Ikhtiar Menuju Pengurus yang Berintegritas, Progresif, dan Inovatif”, kegiatan ini diakamodir oleh Bidang Pengembangan Aparatur Organisasi (PAO). Forum ini menjadi ruang bagi seluruh pengurus untuk menyampaikan evaluasi, mempertanggungjawabkan perjalanan program kerja selama setengah periode, serta membuka ruang bagi gagasan dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan perbaikan bagi kepengurusan.

Sidang Pleno Tengah dilaksanakan selama satu hari, yaitu pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG), UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dihadiri oleh tamu undangan dan seluruh pengurus HMJMPI Kabinet Katalisator periode 2026–2027. Turut hadir Sekretaris Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Dr. Syam’iyah, S.Pd., M.Ag., serta perwakilan Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Tuahbahgie Niate selaku (Ketua SEMA FTK).

Setelah rangkaian pembukaan selesai, suasana forum mulai berubah menjadi lebih serius dan khidmat. Tiga ketukan palu menandai dimulainya persidangan yang dipimpin langsung oleh Ex-Officio HMJMPI. Forum kemudian memasuki Pleno I dengan agenda pembahasan dan penetapan tata tertib sidang sebagai landasan dalam pelaksanaan seluruh rangkaian persidangan.

Memasuki Pleno II, forum beralih pada agenda utama, yaitu laporan pertanggungjawaban setengah periode kepengurusan. Satu per satu bidang menyampaikan laporan mengenai perjalanan kepengurusan selama setengah periode, dimulai dari Bidang Pengembangan Intelektual, Bidang Penegak Kode Etik dan Akhlakul Karimah, Bidang Pengembangan Aparatur Organisasi, Bidang Pengembangan Olahraga, Bidang Pengembangan Seni, Bidang Kerja Sama, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat, Bidang Komunikasi dan Informasi, Bidang Kewirausahaan, hingga Ex-Officio.

Waktu terus berjalan hingga malam, namun pembahasan tetap berlangsung. Di penghujung Pleno II, Tuahbahgie Niate selaku Ketua SEMA FTK turut menyampaikan pandangannya mengenai laporan setengah periode HMJMPI. Pandangan dan masukan tersebut menjadi bagian dari refleksi yang dapat dipertimbangkan dalam perjalanan kepengurusan selanjutnya.

Setelah seluruh laporan kepengurusan disampaikan, forum memasuki Pleno III yang diawali dengan FGD per bidang. Pembahasan kemudian diarahkan pada beberapa hal penting, yaitu resuffle, restruktur, rekomendasi, dan saran untuk setengah periode kepengurusan, serta hasil rapat kerja.

Pada tahap ini, forum tidak lagi hanya melihat apa yang telah terjadi, tetapi mulai mengarahkan pembahasan pada langkah yang akan dilakukan setelah evaluasi. Berbagai rekomendasi dan saran menjadi bahan dalam Rapat Kerja Kedua untuk memantapkan kembali program kerja serta menyesuaikannya dengan hasil evaluasi yang telah dibahas bersama.

Di sinilah makna dari tema “Dekolonisasi Organisasi HMJMPI” menemukan ruangnya. Evaluasi tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun cara berpikir yang lebih terbuka, memperkuat integritas, serta mendorong lahirnya gagasan yang progresif dan inovatif.

Sekitar pukul 23.50 WIB, Sidang Pleno Tengah resmi ditutup. Penutupan tersebut menandai berakhirnya rangkaian evaluasi dan pemantapan program kerja yang telah berlangsung sejak siang hingga malam hari. Namun, berakhirnya persidangan bukan berarti berakhir pula proses perubahan yang diharapkan.

Melalui Sidang Pleno Tengah, HMJMPI Kabinet Katalisator berupaya menjadikan evaluasi sebagai bagian dari proses menggerakkan perubahan. Sebab, sebuah perjalanan organisasi tidak hanya diukur dari apa yang telah dicapai, tetapi juga dari kemauan untuk belajar, berbenah, dan tumbuh bersama.


Lebih baru Lebih lama